Kendeng Tattoo War: Solidaritas Seni untuk Melestarikan Bumi Kendeng

Protes melawan pabrik semen di pegunungan Kendeng telah dimulai sejak 16 Juni 2014. Sebulan lagi, genap tiga tahun sudah perjuangan petani memperjuangkan tanah sumber kehidupan. Mulai dari mendirikan tenda, long march, sampai aksi menyemen kaki. Perjuangan telah dilakukan dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Petani telah menempuh jalur hukum dan memenangkannya di Mahkamah Agung. Bukannya dihentikan, Gubernur Jawa Tengah malah memutuskan agar proyek terus berjalan dengan menerbitkan izin baru (lagi) Februari lalu.

Meski banyak pihak yang ikut menyudutkan petani dengan berbagai alasan, tapi tidak sedikit juga yang memberikan dukungan. Mulai dari aktivis lingkungan, mahasiswa, sampai seniman. Salah satu bentuk dukungan itu adalah event Kendeng Tattoo War yang akan diadakan pada tanggal 20-21 Mei 2017. Event itu mengusung tajuk “Solidaritas Seni untuk Melestarikan Bumi Kendeng.”

Sesuai tajuknya, event yang akan diadakan selama dua hari itu tidak hanya diisi dengan tattoo war, tapi juga jelajah Kendeng dan pertunjukan musik dan budaya.

“Jelajah Kendeng hari pertama dan kedua. Tattoo war kita laksanakan hari pertama saja. Hari kedua hanya pegelaran musik dan seni budaya,” kata Mas Surono Sabdo Palon, salah satu inisiator event ini sekaligus penanggungjawab tattoo war.

Menurutnya, semua sisa uang registrasi akan diserahkan kepada para pejuang untuk menolak pabrik semen. Selain itu, tujuan diagendakannya aktivitas jelajah Kendeng adalah supaya masyarakat dari luar daerah yang ikut berpartisipasi bisa merasakan indahnya alam Kendeng dan melihat secara langsung kasus pabrik semen ini.

“Agar teman-teman tahu pentingnya keseimbangan industri dan alam,” katanya.

Karena berdasarkan solidaritas, semua performer dan panitia yang terlibat dalam acara ini melakukannya secara sukarela.

“Memaksimalkan dana yang ada dan harus sisa buat menyumbang,” ujarnya.

Adapun tujuan diadakannya acara ini selain menunjukkan solidaritas juga untuk mendesak pemerintah mencabut surat izinnya.

“Kita mendukung perjuangan petani itu karena pabrik berdiri pada tempat yang salah. Limbah akan memengaruhi hasil panen, atau bahkan bisa gagal panen. Pabrik itu juga menempati tanah yang notabene adalah hutan lindung.”

Tattoo war sendiri mengambil tema alam, termasuk flora dan fauna.

“Black and gray dan colour, tema tetap sama, kelestarian alam.”

Jadi buat kalian tattoo artist yang ingin berpartisipasi, tattoo war kali ini bukan hanya sekedar tattoo war biasa, tapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan mendukung perjuangan petani.

“Kalau kita nggak dukung petani, kita mau makan apa? Toh bahan dasar semua makanan pasti berawal dari tangan petani,” pungkasnya.

Tattoo virgin. Bisa ditemui di akun facebooknya.

Related Post to Kendeng Tattoo War: Solidaritas Seni untuk Melestarikan Bumi Kendeng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *