Rheza Arcadia

Ngobrol sama Mas Rheza Arcadia ini aku dapet banyak sekali pelajaran. Orangnya menginspirasi, ramah juga dan hobi cerita (tipe narsum favorit aku, hahaha).

Nggak hanya sibuk nattoo artist, tapi juga ngeyoutube, ngajarin nak-nak muda yang pengen belajar tattoo dengan baik dan benar, dan apa lagi jal? Mas Rheza udah nulis buku dooongs (shame on you, Pelle!). Sungguh, ngobrol dengannya, aku jadi merasa bagaikan remah-remah coklat jago yang udah digigitin semut dan itupun nggak dihabisin. Bukan siapa-siapaaaa. *nangis guling

Udah deh, orang kayak Mas Rheza ini langka banget, udah. Simak aja obrolan kami di bawah ini.  Mudah-mudahan terinspirasi juga yak!

Cerita dong mas, soal video tutorial tattoo yang di Youtube.

Jadi awalnya dulu aku sempet pensiun dari dunia tattoo sekitar dua tahunan. Pas mulai masuk lagi ke dunia tattoo sudah banyak sekali seniman tattoo.

Dulu sempet kepikiran juga takut nggak laku tattoonya karena banyak seniman tattoo dengan harga yang gila-gilaan murahnya.

Tapi pas dapat panggilan magang di beberapa studio tattoo di Malaysia, aku mendapat pencerahan dan belajar banyak hal.

Karena dulu aku pensiun dua tahun jadi orang sudah nggak mengenal aku lagi alias mulai dari nol.

Jadi awalnya membuat tattoo tutorial itu sebenarnya trik aku juga untuk promosi. Biar orang mengenal karyaku lagi. Makanya selain mendidik juga aku selipin hasil karyaku. Simbiosis mutualisme.

Ternyata banyak peminatnya dan penonton. Aku pikir ini adalah media yang tepat untuk aku menyuarakan aspirasi. Apalagi pengalamanku di beberapa negara di luar Indonesia. Mereka begitu respect dengan seniman tattoo Indonesia yang mulai jadi sorotan. Apalagi tattoo tradisional di Indonesia mulai dilirik dunia. Makanya aku mencoba menyuarakan dan memberitahu realita bahwa tattoo khususnya di Indonesia itu nggak seperti dulu lagi lewat video “Tattoo Bukan Kejahatan.”

Video itu merupakan suara hatiku pribadi yang nggak bisa aku suarakan, dan tertuanglah video itu.

Dulu mau menikah aja sulit karena siapa yang mau anaknya dinikahkan dengan tukang tattoo? Dulu juga banyak cibiran-cibiran tentang pekerjaan sebagai tukang tattoo adalah pekerjaan yang nggak punya masa depan, tapi mereka nggak tahu karyaku sudah dinikmati banyak orang, dan aku bisa melihat dunia luar gara-gara tattoo.

Intinya video itu adalah unek-unekku yang nggak bisa aku omongkan ke orang-orang, dan ternyata pas aku tuangkan ke video jadi viral.

Dulu mulai nattoo itu sejak kapan?

Aku mulai nattoo tahun 2009. Itu nggak sengaja, mbak. Aku dulu kerja di BUMN.

Aku dulu cuma sebagai penyandang modal (di studio tattoo). Aku nggak bisa nattoo sama sekali. Tapi karena selalu bentrok dengan pekerjaku, jadi mau nggak mau aku harus bisa nattoo. Kalau enggak, usahaku hancur. Padahal modal udah banyak.

Tapi sebelum itu memang sudah punya skill menggambar?

Nggak punya sama sekali. Hehehehe.

Serius?

Serius. Aku nggak ada basic nggambar. Makanya dulu aku belajarnya bener-bener giat. Aku mencari orang yang mau mengajarkan tattoo nggak ada yang mau.

Berarti mulai dari belajar menggambar dulu?

Aku dulu nekat langsung nattoo. Hahahaha. Karena nggak memikirkkan kualitas, tapi memikirkan hasilnya. Karena awalnya buka tattoo untuk bisnis.

Tapi lama-lama banyak yang complain dan aku bener-bener belajar. Aku sampai keliling Jawa nyari orang yang mau ngajarin.

Trus akhirnya belajar sama siapa mas?

Aku belajar dengan banyak orang. Nggak belajar secara formal, tapi mencari ilmu sendiri dengan bikin tattoo dengan si seniman itu trus tak liatin sambil tanya-tanya sok akrab dengan orang yang jago nattoo trus tak ajak ngobrol, tak selipin tanya-tanya. Jadi nyolong-nyolong ilmu.

Soalnya dulu untuk belajar nattoo susah, nggak ada yang mau ngajarin. Apalagi nggak ada basic sekolah seni. Jadi nggak ada link.

Itu juga alasanku bikin tutorial tattoo, karena merasa dulu aku mau belajar tattoo susah banget.

Waktu itu sudah resign dari kerjaan?

Aku resign kerja setelah satu tahun. Waktu bener-bener nggak bisa ngebagi waktu dan dihadapkan pada pilihan berat. Di satu sisi kerja jadi pegawai enak, dapat gaji tetap, dapet pensiun, tapi terpenjara. Nggak bisa ke mana-mana, nggak bisa kaya. Kalau mau kaya korupsi.

Pilihan kedua, nyoba nattoo. Bisa kaya, nggak terpenjara. Tapi risikonya kalau bangkrut nggak punya kerjaan lagi.

Trus akhirnya memutuskan memilih tattoo?

Iya, mbak. Sempet diusir sama orang tua. Hahahaha. Ya orang tua pasti pengen anaknya bahagia. udah enak dapet kerjaan tetap malah keluar jadi tukang tattoo.

Tapi malah di situ ada adrenalin. Aku harus bisa menunjukkan bahwa aku bisa.

Sekarang ortu sudah menerima mas?

Malah sekarang didukung semenjak sering dapet panggilan ke luar negeri. Soalnya kan keluargaku keluarga jaman dulu banget. semua orang harus jadi pegawai negeri.

Kalau melihat orang bisa ke luar negeri itu hal yang istimewa. Di semua keluargaku dulu nggak ada yang sampai keluar Indonesia kecuali umroh atau haji.

Dari situ orang tua mendukung, malah menyuruh. “Sudah, kerja di luar aja. Nato di sini nggak ada uangnya,” gitu kata ibuku. Hahaha.

Udah ke Negara mana aja mas?

Masih di lingkup Asia aja, mbak. Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina.

Dulu sempet pensiun dua tahun itu kenapa?

Banyak hal. Pertama karena aku dulu susah nikah gara-gara tattoo. Sering dinasihatin nenek untuk jangan jadi tukang tattoo. Kedua karena arogan dan sombong waktu jaya dulu, jadi dihancurin Tuhan.

Dulu umur 23 tahun kalau nggak salah, penghasilanku 30 juta per bulan dari tattoo. Tahun segitu gaji satu juta per bulan saja udah besar. Appointment full sampai setahun. Sponsor mesin dan peralatan tattoo berdatangan. Karyaku sempet dimasukin majalah tattoo di Amrik.

Kaget lihat penghasilan kaya gitu, mulai lah berhura-hura tiap malam ke diskotik. Tiap hari mabuk sampai sempat bikin pub kecil sendiri buat hura-hura.

Trus aku jadi sombong. Kalau ada yang mau nattoo di atas jam tujuh malam aku tolak. Kalau ada yang mau nattoo di bawah satu juta aku nggak mau ngerjain. Dan karena selalu hura-hura, hasil karyaku menurun drastis karena aku jadi males-malesan bikin tattoo, dan dueeerrr ….

Apa mas? Jadilah coco crunch?

Bangkrut.

Aku terlibat masalah banyak banget dan uangku habis untuk menyelesaikan masalah-masalah itu. yang appointment tattoo pada cancel semua.

Langsung jadi pengangguran. Mau perpanjang sewa toko juga udah nggak mampu. Mau buka di rumah, aku juga belum punya rumah sendiri, masih ikut orang tua.

Di situ aku berpikir untuk pensiun. Tabunganku habis tinggal sisa 500 ribu kalau nggak salah. Mau nggak mau aku harus bisa muter uang itu kalau nggak habis sudah, nggak bisa makan.

Kebetulan pas itu bulan puasa. Aku jualan takjilan.

Dari hasil jual takjil lumayan. Sehari 400 ribu. Dari situ aku punya modal dan berpikir untuk alih profesi. Jualan makanan.

Dulu awalnya karena kepedean dengan penghasilan besar jualan makanan, akhirnya aku nerusin bikin makanan ringan untuk aku titipin ke jajanan pasar. Dulu aku jualan pempek, siomay, sama roti-rotian. Dibantu pacar yang sekarang jadi istri.

Tapi ternyata nggak seperti yang dibayangkan. Jualan rame pas puasa aja.

Dari penghasilan 30 juta per bulan, dari yang nolak tattoo kalau di bawah satu juta, akhirnya nyari untung 50 ribu sehari aja susah minta ampun. Harus kerja full time dan bisa istirahat cuma lima jam aja sehari.

Dari situ aku mulai berpikir, mungkin Tuhan marah sama aku. Tapi dari kerjaan itu aku mulai menghargai uang kecil.

Trus akhirnya gimana ceritanya bisa balik ke tattoo?

Nah, dulu sebelum nikah pas jualanku dihancurin sama oknum. Sebulan sebelum nikah nganggur. Mau dibatalin nggak mungkin. Akhirnya tetep nikah dan uang tabungan habis buat nikah. Waktu itu setelah nikah nganggur satu bulan. Uang tabungan tinggal 600 ribu, udah buntu mau ngapain.

Eh, tahu-tahu ada yang telpon mau bikin tattoo. Nggak main-main, bikinnya besar-besar dan dua gambar sekaligus.

Sebelum aku bilang iya, aku cek dulu alat-alat masih layak pakai atau enggak. Ternyata masih bisa dipakai. Langsung aku bikin tattoo itu. Sepertinya Tuhan menyuruhku kembali ke dunia tattoo. Pas masa nganggur itu aku doa tiap malam. Minta petunjuk harus ngapain karena sekarang udah punya istri, punya tanggungan.

Tapi sebelum bener-bener terjun ke dunia tattoo lagi aku sempet bimbang. Masa Tuhan nyuruh aku ke dunia yang katanya dilarang? Aku mencoba meyakinkan diri dengan berdoa.

Pas itu aku habis sholat di masjid, aku ketemu sama orang surbanan. Nggak tahu ustad apa bukan, tapi karena pakaiannya seperti itu, aku nyoba iseng-iseng nanya dan mendapatkan jawaban menarik.

Aku tanya sama beliau, kalau kerjaanku membuat tattoo, aku dosa nggak? Haram nggak?

Beliau menjawab “Haram nggaknya sesuatu itu dilihat dari banyak baiknya atau banyak buruknya.”

Aku jawab “Banyak baiknya, karena aku mencoba banyak kerjaan gagal terus. Saat ini cuma jadi pembuat tato yang bisa menolongku.”

Beliau menjawab “Kalau banyak baiknya, lakukanlah.”

Trus orangnya balik nanya “Kenapa kamu menyimpulkan tattoo itu haram?”

“Karena menyakiti tubuh.”

“Bukankah facial muka menyakiti tubuh? Dipencet jerawatnya itu sakit lho, nak. Atau pasang kawat gigi juga sakit. Kenapa itu nggak dilarang?

Aku mencoba menjawab “Karena tattoo mengubah bentuk.”

“Pasang kawat gigi juga mengubah bentuk. Perawatan wajah juga mengubah bentuk. Potong rambut juga mengubah bentuk. Kenapa nggak dilarang?”

Aku tambah bingung, tapi berusaha jawab lagi “Karena tattoo mengubah permanen.”

“Pasang kawat gigi juga mengubah permanen. Lagian tattoo itu memperindah sesuatu, bukan memperburuk. Lagian sekarang sudah banyak juga alat bius yang bikin nggak sakit.”

“Yang penting kamu nggak merugikan orang lain, nggak memaksa, dan memberikan yang terbaik untuk orang lain maka lakukanlah. Jadi orang baik, itu point pentingnya.”

Habis itu aku langsung lari pulang mau ngejual peralataan bekas jualan makanan dulu buat buka studio tato lagi.

Dari obrolan itu aku dapat pencerahan. Stigma tato jelek karena orang sendiri yang bikin.

Kalau yang dapet panggilan ke Malaysia itu gimana ceritanya mas?

Karena aku mulai dari nol, jadi aku harus kuat promosi di dunia maya. Bikin web, dll. Ada orang dari Malaysia mungkin yang lihat, trus aku direkomendasikan sama studio tersebut.

Berapa lama di sana?

Cuma tiga minggu soalnya visa satu bulan. Aku di Malaysia awalnya nggak ngejar hasilya. Lebih pengen belajar di sana.

Kalau sekarang masih sering ke luar negeri juga?

Kemarin terakhir November ikut event di Mallaca. Kalau sekarang aku masih pengen main sama anak soalnya lagi lucu-lucunya. Jadi ditunda dulu kerjaan di luar Jogjanya.

Kalau ada yang mau belajar nattoo gitu nerima anak magang nggak, mas?

Biasanya murid-muridku yang pada magang di sini.

Lhoo, punya murid?

Aku buka sekolah tattoo, mbak. Gratis buat yang punya passion kuat.

Gimana caranya kalau mau jadi murid?

Setiap buka kloter baru pasti kami kabarkan kok. Bisa langsung chat WA atau email waktu pendaftaran dibuka. Nanti aku lihat hasil-hasilnya. Kalau layak, aku masukin gratis. Kalau enggak rekomendasi dari murid-muridku.

Pengumuman pendaftaran lewat sosmed?

Iya, lewat sosmed.

Oyaa, Mas Rheza tattoonya aliran apa?

Kalau aku lebih le surealisme, realism, dark art, dan horror.

Tattoo artist yang menginspirasi Mas siapa?

Paul Booth, Paul Acker, Tommy Lee, Wendert, Mr. Dist, Nikko Hurtado, David Jorquera, dan banyak lagi yang beraliran realis dan surealis.

Saran dong mas, buat orang-orang yang diam-diam memendam cita-cita jadi tattoo artist.

Yang pertama, apapun itu kalau kita lakukan dengan sungguh-sungguh pasti akan berhasil. Kedua, jangan pernah berhenti belajar sampai kapanpun.

 

Gimanaaah? Kalian merasa tercerahkan enggak? Aku aja iya lhoo. Kalau mau dapetin lebih banyak inspirasi dari mas Rheza, bisa lohh kalian kepoin di sini:

Studio    : Indonesian Tattoo Midnight Gallery

Jl. Gajah Mada Gg. Sidat Yogyakarta

Web       : www.rhezaarcadia.com

WA         : 0819 0404 5958

Email     : rheza.arcadia@yahoo.com

FB           : Rheza Arcadia Kalinggajaya

Tattoo virgin. Bisa ditemui di akun facebooknya.

Related Post to Rheza Arcadia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *