Risiko Tato Di Bekas Luka

Seperti semua bentuk body modification lain, tato juga memiliki risikonya sendiri. Tato di kulit yang nggak luka aja bisa berrisiko. Apalagi di kulit bekas luka. Kemungkinan risikonya lebih besar. Apa saja?

Pertama, kulit yang pernah terluka kadang menjadi lebih sensitif. Mungkin kamu baik-baik aja ditato di kulit yang nggak luka. Mungkin tinta tato nggak ngaruh apa-apa. Tapi di area bekas luka, bisa jadi berbeda. Bisa jadi tinta tato yang di area kulit lain nggak menimbukan reaksi apa-apa, bisa memicu reaksi alergi di kulit yang nggak ada bekas lukanya.

Kedua, beberapa bekas luka masih menimbulkan rasa sakit meski sudah lama sembuh. Hal ini dikarenakan ujung simpul syaraf yang terbuka atau karena tekstur kulit berubah menjadi lebih tipis sehingga mudah merasa sakit. Misalnya kena angin aja rasanya seperti ditusuk-tusuk. Ini harus diperhatikan. Bukan hanya saat proses tatonya yang bisa jadi lebih menyakitkan tapi juga apakah proses tato ini bisa menimbulkan luka lebih jauh?

Ketiga, karena kondisi kulit yang berbeda, kamu harus siap kalau hasil tato saat fully healed mungkin nggak akan seperti yang kamu harapkan. Seenggaknya mungkin nggak sesempurna kalau ditato di kulit yang nggak ada bekas lukanya. Perubahan tekstur dan kerusakan lapisan kulit bisa menyebabkan tinta jadi nggak masuk sempurna. Jadi mungkin bakal ada garis yang kelihatan putus-putus, warna memudar, dll. Jadi kemungkinan bakal ada sesi tambahan untuk menyempurnakan bagian yang kurang jelas itu.

Selain itu, kalau lukanya masih termasuk baru, ada kemungkinan sebenernya lukanya belum benar-benar sembuh, terbuka lagi, dan malah menyebabkan kerusakan kulit yang lebih parah. Bisa jadi infeksi, dan membuatmu harus diberi penanganan medis untuk mengurangi risiko kerusakan kulit lebih jauh. Makanya diperlukan kesabaran untuk memastikan bekas lukanya udah bener-bener sembuh sebelum ditato.

Terakhir, kondisi kulit masing-masing orang beda. Termasuk kecepatan penyembuhan, trus kondisi setelah sembuh dari luka, dan lain sebagainya. Makanya di sini aku banyak menggunakan kata mungkin karena memang ini semua nggak pasti. Sangat tergantung kondisi kulit masing-masing orang.
Tapi, ada satu hal yang mungkin sama: makin besar, lebar, dan dalam bekas lukanya, makin sulit untuk ditutupi. Risiko tatonya nggak berhasil menutup bekas luka secara sempurna juga makin tinggi. Jadi kamu harus siap.

Selain itu, alangkah lebih baiknya sebelum memutuskan untuk menutupi bekas luka dengan tato, kamu konsultasi dulu dengan dokter. Tanyakan mengenai kondisi kulitmu. Apakah mungkin kalau bekas luka yang kamu miliki ditutupi dengan tato? Apa risikonya? Apa berbahaya? Dan lain sebagainya.

Jangan sampai tujuan bertato untuk menutupi bekas luka malah menjadi lebih parah dan menyebabkan kerusakan kulit yang lebih serius. Ingat, di sini risikonya bukan hanya hasil tato yang jadi kurang sempurna, tapi ada kemungkinan kerusakan kulit dan menjadi keloid.

Juga, pilih tattoo artist jangan sembarangan. Lihat-lihat portofolionya. Apakah dia berpengalaman mentato di bekas luka? Seperti apa hasilnya? Lihat hasilnya ketika fully healed, apakah benar-benar menutup luka secara sempurna? Atau malah menimbulkan infeksi?

Kurasa hal ini yang paling penting. Jangan ngawur pilih tattoo artist. Semua orang bisa mengaku-ngaku jagoan, bisa mentato segala kulit termasuk di bekas luka, tapi belum tentu. Kamu tetap harus selektif dan hati-hati untuk mengurangi kemungkinan risiko.

Image credit: Instagram/msnico